header-int

Berebut Takhta, Pertarungan Terjadi di Opera Caronong Samudra Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin

Kamis, 14 Feb 2019, 11:57:52 WIB - 91 View
Share
Berebut Takhta, Pertarungan Terjadi di Opera Caronong Samudra Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin

Perkelahian menggunakan senjata tajam seperti tombak dan pedang dengan melibatkan puluhan orang, terjadi di panggung utama Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin, Sabtu (2/2/2019) malam.

Mereka saat terlibat dalam perkelahian secara terbuka tersebut, menggunakan pakaian prajurit ala kerajaan. Pertempuran terjadi dikarenakan perseteruan yang terjadi antara seorang paman dengan keponakannya dan ini terkait dengan perebutan takhta kerajaan. Sang paman yakni Pangeran Tumenggung ingin membunuh keponakannya yakni Pangeran Samudra karena ingin merebut kekuasaan.

Pangeran Samudra sempat melakukan pelarian ke Balandean, namun akhirnya Pangeran Tumenggung masih bisa mendapatkannya. Akhirnya Pangeran Tumenggung pun luluh hatinya, kemudian saling berpelukan dan menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Samudra. Sesuai kesepakatan, akhirnya Pangeran Samudra pun memeluk Islam dan menjadi raja pertama di Banjar yang memeluk islam. Begitulah penggalan cerita dari pertunjukkan opera yang dilaksanakan oleh STIKIP PGRI Banjarmasin dengan mengangkat judul Coronong Samudra. Dan senjata yang digunakan dalam pertunjukaan hanyalah properti.

Coronong Samudra ini menceritakan tentang masa kejayaan dari Pangeran Samudra yang berasal dari kerajaan Daha. Dan kisah ini pun dipentaskan dengan sangat apik oleh mereka yang sebagaian besar adalah mahasiswa STIKIP PGRI Banjarmasin. Suasana kerajaan serta kebudayaan Banjar seperti menggunakan jukung pun dihadirkan para penari yang terlibat. Penari yang dilibatkan pun jumlahnya begitu banyak yakni lebih dari 100 orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Aplus pun diberikan oleh penonton yang hadir dengan jumlah kurang lebih 2000 orang tersebut.

Pertunjukkan opera ini sendiri terbagi menjadi dua sesi yakni sore dan malam. Dan total penonton yang hadir dari dua sesi ini berjumlah sekitar 4000 penonton. "Cerita ini mengangkat nilai-nilai kebangsawanan. Pangeran Samudra ternyata mampu memenangkan peperangan tanpa mengalahkan," ujar Dosen Produksi Tari STIKIP PGRI Banjarmasin, Suwarjiya. Suwarjiya menambahkan bahwa penggarapan opera ini memerlukan waktu lebih dari tiga bulan. "Lebih dari tiga bulan. Dan untuk mendapatkan tokoh, alur cerita dan sebagainya kami melakukan kajian di beberapa buku dan sumber. Dan untuk penari jumlahnya lebih dari 100 orang, kemudian ditambah pemain musik dan juga paduan suara," katanya.

Pertunjukan ini sendiri sekaligus sebagai ujian mahasiswa STIKIP PGRI Banjarmasin pada mata kuliah Manajemen Seni Pertunjukkan oleh mahasiswa semester lima, dan Produksi Tari oleh mahasiswa semester tujuh.(banjarmasinpost.co.id/frans rumbon)


 

Unidha STKIP PGRI Banjarmasin salah satu Sekolah TInggi di banjarmasin
© 2019 STKIP PGRI BANJARMASIN Follow STKIP PGRI BANJARMASIN : Facebook Twitter Youtube